AGAM — LPPM Universitas Ekasakti — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Ekasakti (UNES) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Era Digital” di Kantor Wali Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Jumat, 21 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam memperkuat kapasitas masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta pemanfaatan teknologi digital berbasis potensi lokal.
Salah satu fokus utama yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut adalah hilirisasi buah kelapa berbasis zero waste menuju ekonomi sirkuler. Materi disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. I Ketut Budaraga, M.Si., dari Fakultas Pertanian/Teknologi Hasil Pertanian dan LPPM Universitas Ekasakti, dengan gagasan utama “Satu Buah Kelapa, Banyak Produk, Minim Limbah, Maksimal Nilai Tambah.”
Pendekatan tersebut menempatkan kelapa tidak hanya sebagai komoditas pertanian yang dipasarkan dalam bentuk primer, tetapi sebagai sumber bahan baku yang memiliki rantai nilai luas. Seluruh bagian buah kelapa berpotensi diolah menjadi produk pangan, nonpangan, produk pertanian, hingga sumber energi sehingga mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat.
Dalam materi yang dipaparkan, air kelapa dapat dikembangkan menjadi nata de coco, minuman, dan cuka. Daging kelapa dapat diolah menjadi santan, Virgin Coconut Oil (VCO), kelapa parut, serta tepung kelapa.
Sementara itu, tempurung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku arang, briket, karbon aktif, dan asap cair. Sabut kelapa dapat diolah menjadi cocopeat, cocofiber, serta media tanam, sedangkan ampas pengolahan masih dapat dikembangkan menjadi tepung tinggi serat maupun pakan.
Dorong Transformasi Menuju Ekonomi Sirkuler
Melalui kegiatan pengabdian tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan transformasi pola pemanfaatan sumber daya dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkuler.
Dalam ekonomi linear, bahan baku pada umumnya diproses menjadi produk, kemudian residunya berakhir sebagai limbah. Sebaliknya, ekonomi sirkuler berupaya mempertahankan bahan dan produk samping agar tetap berada dalam siklus produksi dan dapat dimanfaatkan kembali.
Konsep yang diperkenalkan menggunakan prinsip Reduce, Reuse, Recover, Recycle, dan Revalue. Dengan pendekatan tersebut, hasil samping pengolahan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki peluang untuk diproses kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Penerapan ekonomi sirkuler pada komoditas kelapa dinilai memiliki potensi besar karena hampir seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan. Model ini sekaligus mengintegrasikan kepentingan ekonomi dengan aspek keberlanjutan lingkungan.
Teknologi Tepat Guna Perkuat Kapasitas Masyarakat
Penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui pengenalan berbagai teknologi tepat guna yang relevan dengan pengolahan kelapa.
Teknologi tersebut antara lain ekstraksi VCO, pengolahan santan, pengeringan dan pembuatan tepung kelapa, fermentasi air kelapa menjadi nata, pirolisis tempurung menjadi asap cair, serta karbonisasi tempurung menjadi arang dan briket.
Selain itu, masyarakat diperkenalkan dengan pemanfaatan sabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber, serta peluang pengembangan berbagai produk turunan berbasis minyak kelapa.
Teknologi yang diterapkan diarahkan agar mudah, terjangkau, aman, efisien, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan sehingga memiliki peluang lebih besar untuk diadopsi masyarakat secara mandiri.
Dalam perspektif pengabdian kepada masyarakat, transfer teknologi tidak hanya berorientasi pada pengenalan alat maupun metode produksi. Lebih dari itu, teknologi perlu dapat dipahami, digunakan, dipelihara, dan dikembangkan oleh masyarakat sesuai kebutuhan serta kapasitas lokal.
Pemberdayaan Tidak Berhenti pada Produksi
Model pemberdayaan yang diperkenalkan mengintegrasikan potensi kelapa lokal, sumber daya manusia, teknologi, peralatan, dan pengetahuan.
Tahapan pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan, praktik, pendampingan, produksi, hingga pengemasan. Proses tersebut diarahkan untuk menghasilkan produk baru, peningkatan keterampilan, terbentuknya kelompok usaha, penguatan branding, serta pengembangan kemasan produk.
Dalam jangka menengah, model tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan pendapatan masyarakat. Sementara dalam jangka panjang, dampak yang dituju adalah terbentuknya ekonomi lokal berbasis kelapa yang sirkuler dan berkelanjutan.
Produk Lokal Harus Terhubung dengan Pasar
Pengembangan produk lokal juga perlu diikuti dengan penguatan akses pasar. Produk yang berhasil diproduksi belum secara otomatis memiliki daya saing apabila tidak didukung standardisasi mutu, identitas produk, kemasan, legalitas usaha, serta strategi pemasaran.
Karena itu, materi pengabdian menempatkan standardisasi produk, branding, kemasan, legalitas, dan digital marketing sebagai bagian penting dalam proses hilirisasi.
Standardisasi diarahkan pada aspek mutu, keamanan, kebersihan, dan konsistensi produk. Sementara kemasan perlu memenuhi unsur higienis, informatif, menarik, sekaligus memperhatikan prinsip ramah lingkungan.
Pada sisi legalitas, masyarakat diperkenalkan dengan kebutuhan seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), perizinan pangan sesuai kategori produk, sertifikasi halal, merek, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual apabila diperlukan.
Untuk memperluas akses pasar, masyarakat juga dapat memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp Business, marketplace, Instagram, TikTok, dan website. Strategi tersebut membuka peluang produk lokal untuk berkembang dari pasar lokal menuju pasar regional, nasional, digital, bahkan pasar yang lebih luas apabila standar produk telah terpenuhi.
Bangun Ekosistem Ekonomi Lokal Berkelanjutan
Keberhasilan hilirisasi kelapa tidak hanya diukur dari banyaknya produk yang dapat dihasilkan. Indikator keberhasilan juga mencakup aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan teknologi.
Dari sisi ekonomi, program diarahkan pada peningkatan nilai tambah, pendapatan mitra, serta bertambahnya produk dan peluang usaha.
Dari aspek lingkungan, pemanfaatan sabut, tempurung, air kelapa, dan berbagai produk samping diharapkan dapat menekan volume limbah.
Sementara dari aspek sosial, kegiatan diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, partisipasi, serta kapasitas masyarakat dalam membangun aktivitas usaha. Pada sisi teknologi, indikator keberhasilannya mencakup kemampuan masyarakat mengadopsi teknologi, tersedianya prosedur produksi, serta pemanfaatan peralatan tepat guna.
Roadmap Hilirisasi Kelapa hingga 2030
Materi pengabdian juga memuat arah pengembangan hilirisasi kelapa periode 2026–2030.
Tahun 2026 diarahkan pada pemetaan potensi dan pelatihan. Tahun 2027 dilanjutkan dengan produksi dan standardisasi, kemudian pada 2028 memasuki tahap pengembangan produk dan branding.
Pada 2029, program diarahkan pada digitalisasi dan perluasan pasar, sedangkan pada 2030 ditargetkan tercapainya kemandirian usaha dan ekonomi sirkuler.
Roadmap tersebut menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan proses yang membutuhkan keberlanjutan. Pelatihan menjadi tahap awal, sementara tujuan akhirnya adalah membangun kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk, mengelola usaha, mengakses pasar, serta mempertahankan aktivitas ekonomi secara mandiri.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Kantor Wali Nagari Manggopoh pada 21 Agustus 2026, LPPM Universitas Ekasakti memperkuat implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Pendekatan hilirisasi kelapa berbasis zero waste, ekonomi sirkuler, teknologi tepat guna, dan pemasaran digital diharapkan mampu mempertemukan peningkatan nilai ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.
Konsep “Satu Buah Kelapa, Banyak Produk, Minim Limbah, Maksimal Nilai Tambah” menjadi kerangka pengembangan yang mendorong masyarakat tidak sekadar menjual komoditas, tetapi mengolah potensi lokal menjadi berbagai produk bernilai tambah yang dapat memperkuat kemandirian ekonomi Nagari Manggopoh.